Pages

Surat Untuknya

Udara malam bergelayut membelaiku saat aku menulis surat ini. Masihkah hari-hariku cukup panjang, tak seperti yang telah aku takutkan selama ini? Ya, aku takut kalau-kalau belum sempat diriku menulis surat perpisahan yang terakhir kalinya padanya. Aku divonis mengidap kanker paru-paru lebih dari setahun yang lalu namun rasa malu membuatku menutupi semua rahasia ini padanya , bahkan pada teman-temanku. Kini aku siap untuk meninggalkannya. Selama ini aku selalu bertanya-tanya dan selalu ragu-ragu. Namun sekarang aku yakin dengan keputusan ini. Dia terlalu baik untukku. Aku tidak pantas mendampinginya. Memang, dulu aku sangat egois karena hanya memikirkan perasanku. Tetapi semakin dipikir, semakin yakin aku bahwa aku bukanlah yang terbaik baginya. Jika dia bisa mendapatkan yang lebih cantik, lebih sehat, dan lebih baik dariku, mengapa aku berusaha menghalanginya dan berusaha mendapatkan hatinya? Dia pantas untuk seseorang yang lebih baik dariku. Hanya itu yang bisa kuyakini saat ini. Untuk itulah aku menulis surat ini. Yang terpikir hanya dia dan hanya untuk kebaikannya saja. Beginilah bunyi surat yang sekarang sudah selesai itu. Jakarta, 30 Juli 2010. Aku menanti selama hampir 6 tahun untuk bisa bertemu denganmu lagi. Rasa rindu yang menggelegak sebanding dengan keputusasaanku yang menggunung setinggi Himalaya sebelum ‘ku bertemu denganmu. Semangat hidupku belum habis semuanya, namun keyakinan akan kehilanganmu lagi menghantui pikiranku. Simfoni alam menyatu dalam keheningan ketika kita sama-sama terdiam tak tahu apa yang harus kita bicarakan. Desingan suara ratusan kendaraan menghujani indera telingaku. Namun, masih jelas terngiang suara hatiku sendiri untuk memutuskan hal ini. Keputusanku akan mengubah hidupku dan (mungkin) hidupmu sejak saat ini. Rasakanlah, Sayangku, betapa dalamnya aku mencintaimu. Namun aku tak boleh menengok kembali lagi ke masa lalu kita. Maka, bacalah surat ini dengan segenap jiwamu, janganlah kau menyesali keputusanku karena aku hampir yakin aku telah meninggal waktu kau membaca surat ini. Maafkan aku, kepergianku bukanlah keinginan yang kusengaja. Aku tahu waktuku di dunia tak akan lama lagi. Aku tahu maut akan segera menjemputku jauh sebelum aku tahu kita akan bertemu lagi beberapa hari yang lalu. Sekian lama aku sakit, bahkan sejak aku duduk d bangku SD dan kau pun tahu akan hal ini. Sakit tidaklah melumpuhkanku tetapi mengurangi semangatku untuk bisa memilikimu. Kini aku terserang penyakit baru bernama kanker paru-paru. Kurasa kanker inilah yang akan merenggut nyawaku. Ya, Sayang, aku ingin sekali memiliki-menikahimu-setidaknya hanya untuk sesaat. Namun aku tahu-dan aku paham-tak ada yang bisa diharapkan dari seorang yang penyakitan seperti aku. Aku sadar bahwa aku mungkin adalah pilihan terakhirmu bila di dunia tak ada lagi yang hidup. Kadang, aku berharap engkau cacat, entah buta, bisu, tuli, lumpuh atau apa saja. Kuharap jika kau cacat kau akan melihat diriku dari mata batinmu bukan dari mata fisikmu. Bila kau cacat akan kubuktikan, Sayang, bahwa aku benar-benar mencintaimu. Akan kurawat kau sepenuh hatiku. Sehingga kau menyadari takkan ada seorang pun yang mendampingimu selain aku. Namun kini harapan itu berbalik padaku. Akulah yang sekarang cacat harapan dan lumpuh semangat untuk mencintaimu. Mata hatiku telah mengabur, hidupku berada di ujung jurang kematian, dan hampa telah datang menyelimuti. Kematian adalah yang terbaik bagiku dan Tuhan tak pernah mencabut nyawa hamba-hamba-Nya lebih cepat atau lebih lambat.Aku yakin sekali ketika aku mati nanti, aku masih akan tetap mencintaimu. Aku mencintaimu dulu, sekarang, dan selamanya.. Yang menyayangimu, K.C.P Hawa dingin menyergapku. Bukan karena angin pastinya tetapi oleh kesepianku. Rasa hampa yang sekian lama menyelimuti hatiku dan mengubahnya sedingin es batu. Hingga aku tak ingin jatuh cinta lagi selain dengannya.

***


Lutfi bergegas menuju teras rumah kosnya begitu ia mendengar klakson motor. Rambutnya masih basah sebagian karena ia baru saja mandi. Keningnya berkerut sejenak membayangkan surat apa yang dikirim kepadanya sepagi ini. Keluarganya jarang sekali mengirimi surat lagipula mana ada orang zaman sekarang yang mau bersusah payah menulis surat. Telepon atau sms lebih gampang!!Lebih herang lagi ketika ia membaca siapa nama pengirimnya. Dirinya bertanya-tanya ada apa gerangan sehingga temannya yang baru saja ditemuinya 3 minggu yang lalu mengiriminya surat. Temannya ini memang agak eksentrik, kalau tidak bisa dibilang aneh. Dia secara terang-terangan menunjukkan bahwa ia menyukai Lutfi walaupun mereka hanya bersama-sama pada waktu SD. Kini keduanya bersiap menempuh kuliah di kampus dan kota yang berbeda.Dikeluarkannya isi surat itu dengan rasa tidak sabar campur heran. Sekali-kali mendesah, kadang-kadang mengerutkan kening dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Isi surat itu sangat dalam, perasaan cinta yang begitu tulus, begitu agung dan begitu menyakitkan. Betapa menderita ia selama ini, pikir Lutfi. Jauh di dalam hatinya, ia merasa tersayat-sayat, ia merasa ditampar oleh gadis yang begitu lama dikenalnya namun ia tak pernah tahu perasaannya. Ada segumpal rasa sakit yang memenuhi ruang hatinya dan sedikit rasa tak percaya. Waktu terakhir kali ia berjumpa dengannya, nampaknya temannya itu sehat-sehat saja dan tampak begitu cerah. Ia masih ingat cahaya lembut dari mata itu. Baru disadarinya, itulah yang dinamakan pancaran cinta terpendam. Cinta itu memancar tulus melalui mata.Lambat-lambat ia mulai melangkah di dalam kamar kosnya. Ia ingin menanyakan kabar temannya. Benarkah ia sudah meninggal? Mungkinkah ia meninggal karena kanker paru-paru? Benarkah ia mencintaiku? Rasa keraguan menghinggapi dirinya. Namun kemudian ia membulatkan tekad.“Aku harus menghubungi Kanya,”ucapnya dalam hati.Jemarinya mengetik pesan singkat yang hanya menanyakan kabar. Tetapi niat itu urung dilaksanakan karena ia lebih memilih untuk meneleponnya saja. Lutfi sudah menekan nomor HP Kanya dan kini nada sambung yang didenagrnya.. Sekali, dua kali.. Lima kali dan tak seorangpun mengangkatnya. Di ujung HP, Lutfi gelisah sekali. Dia takut, takut sekali. Takut jika semua ini memang kenyataan. Akhirnya ada jua yang menerima panggilan telepon..“Halo, Assalamu’alaikum,” sapa Lutfi.“Halo, Walaikumsalam,” sapa suara di seberang telepon.“Halo, Kanya?”“Mas Lutfi? Ni Tara adiknya kakak Kanya,” ujar Tara.“Ya, mana kakakmu?” suaranya menjadi tak sabar.“Kakak Kanya sudah meninggal 2 hari yang lalu. Suratnya, kan sudah dikirim ke Mas Lutfi.”“Meninggal? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..”“Iya, eeeh.. kena kanker..”“Ya sudah, terima kasih. Wassalamu’alaikum,” ucap Lutfi seraya menutup panggilan.Lutfi menyalahkan kebodohannya yang tidak cepat menangkap arti surat temannya. Sudah jelas bahwa Kanya memang menderita, menderita karena penyakitnya dan kerena cinta. Sudah terpendam cinta itu sekian lama dan kini sang waktu membeberkannya saat Kanya telah tiada.Rasa sakit dua kali lipat dirasakannya semakin perih. Dia tak mampu berbuat apa-apa dan dia benar-benar terlambat untuk diberitahu tentang kondisi temannya itu. Dia melamun, bingung, dan mulai merasa. Ya, ia mulai merasa bahwa ia tahu ia juga mencintai kanya. Entah sejak kapan cinta itu timbul. Yang jelas sekarang ia benar-benar tak berdaya melawan dorongan cintanya ‘tuk menemui Kanya. Tentu saja hal ini tidak mungkin mengingat dunia yang berbeda telah memisahkan keduanya.Selepas shalat dhuhur, ia membacakan surat yasin untuknya. Ia tidak bisa shalat gaib jadi surat yasin saja dirasanya cukup. Setelah itu ia ingin cepat-cepat makan lalu tidur siang. Lutfi tidak terbiasa tidur siang tetapi kali ini ia memaksakan matanya untuk tidur. Ia ingin sekali bertemu dengan Kanya walau dalam mimpi dan ternyata mimpi itu benar-benar menyergapnya. Dia bermimpi bertemu Kanya dan mereka berdua saling bercengkrama.Adakah cinta dapat terjalin melalui dunia yang berbeda???

0 comments:

Posting Komentar